Saturday, February 23, 2008
Pembunuhan berencana oleh negara?
Meski masih ada tahap PK namun pada tahap sekarang hukum memposisikan Negara telah melakukan pembunuhan berencana atas Munir melalui institusi Badan Intelijen Negara ( BIN ) dilaksanakan oleh Polly. Dengan vonis MA tersebut, posisinya sekarang bukan sekadar tuduhan man on the street, tetapi suatu kebenaran materil bahwa memang negara telah melakukannya.
Benarkah? Sesungguhnya saya bertanya dan mencoba menjawab sendiri seperti saya ungkapkan diatas. Hanya saja saya tidak mempunyai pengetahuan hukum. Saya berharap mendapatkan tanggapan atau jawaban dari anda ahli hukum yang mempunyai kompetensi membahas hal ini.
Sunday, February 10, 2008
Renungkan : Hari Pers Nasional
Bayangkan kalau dalam waktu satu hari saja mungkin ratusan koruptor yang biasanya masuk sasaran tembak headline, mulai hari ini bisa langsung ngejengkang di mana saja. Atau Sbu yang pernah dibidik editorial soal alutista bisa bisa tengkurap di kolong meja. Pengadilan langsung eksekusi, tidak sempat kasasi apalagi PK. Ketinting atau perahu kecil malingsia yang lagi ditambal di pantai Ligitan langsung kena torpedo. Coba deh bayagkan meski hanya sekejap saja. Aku fikir membayangkan saja orang tidak mau apalgi melakoninya.
Tapi bagaimanapun pers adalah hajat hidup bangsa ini. Seperti ungkapan klise freedon of the press is freedom for citizen seringkali dimaknakan sebagai sesuatu yang tidak memerlukan aturan karena akan membelenggu warga merdeka yang memiliki kedaulatan sebagai bangsa merdeka-----------------------------------------------------------
Tentara adalah pemegang mandat kedaulatan rakyat atas wilayah teritorial negaranya. Jadilah TNI yang disegani dan dihormati sehingga bangsa lain akan lebih hormat dan segan terhadap bangsa Indonesia. Tapi jika kita sendiri tidak menghormati TNI maka bangsa lain akan lebih merendahkannya. Memang sudah sepatutnya kita menghormati tentara. Mengapa? Karena dia adalah institusi negara sebagai pemegang mandat tadi.
Ketika suatu bangsa menyatakan kemerdekaanya maka terdapat tiga hal yaitu; Pertama, berdaulat atas diri sendiri yang diwujudkan dalam bentuk kebebasan berfikir, menyatakan pendapat atau kebebasan pers, bermasyarakat, beroraganisasi, menjalankan hukum yang bermuara pada hak politik setiap warga negara.
Kedua, kedaulatan untuk menentukan nilai atas kreatifitas dan produktivitas setiap warga negara. Wujud kemerdekaan ekonomi dalam bentuk konkritnya adalah nilai tukar atau mata uang. Begitu proklamasi di kumandangkan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tokoh tokoh kompeten mulai merancang nilai tukar yang disebut sebagai Oeang Republik Indonesia atau ORI menggantikan Gulden dan Yen pada saat itu. Kemudian terbentuklah bank sentral sebagai bendahara negara yaitu Bank Negara Indonesia pada 1946.
Ketiga, setiap warga negara berhak mempertahan wilayah teritorial negaranya. Setiap warga negara berhak untuk memegang senjata dalam konteks mempertahakan kemerdekaannya. Akan tetapi untuk memegang senjata dibutuhkan disiplin ketat dan organisasi yang solid. Kalau tidak maka sangat mungkin terjadi saling bunuh antar warga sendiri. Senjata digunakan melakukan pelanggaran hukum dan tindak kriminal.
Negara tanpa organisasi tentara akan menjadi gerombolan orang bersenjata. Karena itu dibutuhkan Tentara Nasional Indonesia yang mendapat mandat dari rakyat Indonesia untuk memegang senjata. Pertanyaan lantas muncul, sejauh mana kita mempersenjatai diri kita secara terukur mumpuni untuk mempertahankan negara ini? Seberapa canggih alat utama sistem persenjataan yang sudah kita berikan kepada TNI? Apalagi jika parimeternya adalah ancaman, jawabannya adalah kita belum cukup baik mempersenjatai TNI untuk mampu mempertahankan teritorial negera ini.
Monday, February 04, 2008
Aku Sungguh Berduka
Bertepatan dengan hari wafatnya Pak Harto, seminggu yang lalu, di kampoengku telah pula berpulang ke rahmat Allah SWT, si fulan bin fulan. Almarhum adalah warga biasa, dia adalah dia, bukan pejabat bukan pula orang jahat. Tanpa kerepotan berlebihan, jenazah diselenggarakan dengan seksama, banyak kerabat melayat termasuk aku melakukan takziah menyampaikan dukacita.
Selesai dimandikan, dikafan, disholatkan, diantar kepemakaman hanya dengan usungan keranda tanpa mobil dengan sirene tolat tolet. Karena memang didesa yang jalannya tidak dapat masuk mobil.
Ketika jenazah masuk keliang lahat dikumandangkan azan diiringi pembacaan surah Yaasin. Keluarga dan kerabat nampak tabah menghadapinya realitas kematian sebagai bagian dari perjalanan menuju keabadian. Tangis meski tanpa air mata memang manusiawi adanya.
Eh, maaf ada satu yang terlewatkan, ketika sholat jenazah dan imam selesai mengucap salam, pada saat itu oleh ustaz ditannyakan kepada seluruh hadirin. Apakah si fulan yang meninggal ini adalah orang yang baik. ”choir” jawab jamaah. Ditanyakan tiga kali dijawab tiga kali. Ada testamen yang menyatakan bahwa almarhum adalah orang yang baik.
Upacara ditutup dengan khutbah talqien, doa dan tabur bunga seadanya. Semuanya serba biasa, almarhum mulai menjalani kehidupan yang lain. Yang luar biasa adalah mereka yang masih hidup.
Menjadi luar biasa karena ada saja yang memberi komentar kepada yang sudah almarhum. Komentarnya itulah yang menimbulkan konflik dan nyaris insiden. Anda ingin tahu bagaiama sih komentar yang nyaris menimbulkan baku bacok. Entah karena terobsesi penyataan para ”tokoh” di teve maupun koran. Dengan nada minor, si Fulus berucap ” ya sebaiknya beliau kita ampuni saja” begitu lagaknya seperti ketua partai kasih komentar sehabis bezuk ke RSPP. Rupanya omongan ini sampai pula ketelinga kerabat dan terus merambat ke ahli waris almarhum.
Dalam fikiran dan adab orang kampung, tak sepantasnya kita yang sehat memposisikan yang sakit sebagai orang bersalah. Apalagi jika dalam keadaan sakaratul maut. Ucapan kita ampuni saja bermakna bahwa yang barusan kita bezuk adalah orang yang bersalah.
Ucapan seperti itu dalam konteks sehabis bezuk terdengar angkuh dan tidak berdasarkan azas humaniter praduga tak bersalah.
Selanjutnya anda bisa menebak bahwa keluarga almarhum minta penjelasan akan yang dimaksud dengan ”diampuni saja” dan siapa saja ”kita” itu tadi. ” Sejak jaman reformasi dia selalu menghujat orang tua kami, mengatakan tanahnya diserobot tetapi tidak bisa membuktikan apapun di pengadilan, meski sejari miringpun dia tidak bisa memberi bukti apa apa, mengapa terus menyebar fitnah bahkan ketika orang tua kami sudah tiada.
Kalau kalah dipengadilan karena tidak punya bukti kenapa mengatakan pengadilannya yang nggak becus. Memangnya dia nggak punya dosa? Memangnya dia tuhan...apa...setan sih. Begitulah omelan yang namanya orang lagi marah.
Sang Ustaz yang dengan sabar mendengarkan curhat itu kemudian membacakan beberapa ayat yang aku tidak paham. Penawar dingin rupanya. Tapi sepertinya sang ustaz wejangkan makna tentang mengambil hikmah, memberikan keteduhan, kharisma sabar, sabar dan sabar.
”Kalau seseorang menuduhkan perbuatan munkar dan dia tidak bisa membuktikannya maka dia akan bertanggung jawab di akhirat kelak, semuanya akan dihitung, ditimbang dan diganjar oleh yang maha adil. Jika itu fitnah maka seluruh dosa orang yang dituduhnya akan ditanggung oleh mereka yang memfitnah”.
Maka serahkanlah seluruh urusannya kepada Allah Maha Pengadil. Malam harinya akupun tidak bisa tidur, karena pada waktu takziah ketika almarhum terbaring sakit, tak sempat terucap mohon maaf kepada beliau. Aku sungguh berduka. (Syam Jr )
Saturday, December 08, 2007
Tentara Pemegang Mandat Kedaulatan Atas Wilayah Negara
Ketika suatu bangsa menyatakan kemerdekaanya maka terdapat tiga hal yaitu; Pertama, berdaulat atas diri sendiri yang diwujudkan dalam bentuk kebebasan berfikir, menyatakan pendapat, bermasyarakat, beroraganisasi, menjalankan hukum yang bermuara pada hak politik setiap warga negara.
Kedua, kedaulatan untuk menentukan nilai atas kreatifitas dan produktivitas setiap warga negara. Wujud kemerdekaan ekonomi dalam bentuk konkritnya adalah nilai tukar atau mata uang. Begitu proklamasi di kumandangkan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tokoh tokoh kompeten mulai merancang nilai tukar yang disebut sebagai Oeang Republik Indonesia atau ORI menggantikan Gulden dan Yen pada saat itu. Kemudian terbentuklah bank sentral sebagai bendahara negara yaitu Bank Negara Indonesia pada 1946.
Ketiga, setiap warga negara berhak mempertahan wilayah teritorial negaranya. Setiap warga negara berhak untuk memegang senjata dalam konteks mempertahakan kemerdekaannya. Akan tetapi untuk memegang senjata dibutuhkan disiplin ketat dan organisasi yang solid. Kalau tidak maka sangat mungkin terjadi saling bunuh antar warga sendiri. Senjata digunakan melakukan pelanggaran hukum dan tindak kriminal. Negara tanpa organisasi tentara akan menjadi gerombolan orang bersenjata. Karena itu dibutuhkan Tentara Nasional Indonesia yang mendapat mandat dari rakyat Indonesia untuk memegang senjata.
Tuesday, November 13, 2007
Reformasi Tak Punya Arah

Kesuksesan pembangunan nasional berubah menjadi bencana ketika dirasakan bahwa pembangunan berbasis pendekatan demographic berakibat timpangnya infrastruktur ekonomi. Sebab pada dasarnya tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan masa penjajahan. Jika pada masa kolonial eksploitasi sumber daya alam Indonesia, bahagian terbesar hasilnya hanya untuk membangunan Negeri Belanda.
Pada era kemerdekaan, eksploitasi sumber daya alam meski oleh bangsa sendiri tetapi hasilnya tidak menumbuhkan infrastruktur mamadai bagi wilayah setempat. Bahkan cenderung marginal akibat metoda pembangunan demographic approach tadi. Jadi kehidupan tidaklah berbeda setelah republic ini diproklamasikan bahkan lebih parah lagi ketika sumber daya alam habis terpakai, sementara hasilnya hanya untuk kehidupan berpola konsumtif wilayah padat penduduk.
Sebaliknya wilayah berpenduduk tipis namun padat potensi, infrastruktur bagi pembangunan sumber daya alam terbaharukan terabaikan begitu saja menyebabkan bangsa ini kehilangan daya saing dan kearifan budaya local yang protective terhadap sumber daya alamnya.
Problema ini dirasakan semakin mencekam ketika Indonesia dilanda krisis multi dimensi, rentetan mulai dari krisis sosial, ekonomi dan politik bahkan budaya. Krisis budaya karena bangsa ini telah kehilangan filosofi sebagai landasan berpijak kehidupannya. Seruan demokratisasi, transparansi dan akuntabilitas dimaksudkan untuk mengatasi krisis yang seterusnya mendjadi gerakan reformasi.
Thursday, August 23, 2007
Kawasan Indonesia Timur : Butuh Rumusan Strategis Pembangunan Infrastuktur Nasional Berbasis Potensi.
Eh benar juga ternyata ada tanggapan dari floor bahwa pembicaraan mengenai pembangunan kawasan timur ini sudah berlangsung sejak 20 tahun lalu dan hasilnya tetap tertinggal di panel dan nyaris tanpa aksi nyata yang mampu mendongkrak kesejahteraan rakyat. Mengapa? Jawabannya tetap bertahan pada “diharapkan semoga”. Itulah kenyataan kemalangan rakyat 16 propinsi atau separuh NKRI ini. Kuncinya terletak pada lemahnya pembangunan infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia. Itulah pandangan hampir semua tokoh kita.
Ketika bertemu dengan Dr. Hadiono saya sampaikan kepada beliau bahwa selama ini pola yang dianut oleh Bappenas, pembangunan termasuk pembangunan infrastruktur dasar dirancang dengan pendekatan kependudukan atau demographic approach. Sisi lain adalah realitas empiris bahwa pertumbuhan ekonomi kita bersandar pada eksploitasi sumber daya alam. Dengan kata lain bahwa kita selalu menguras sumber daya alam kawasan timur ini namun melupakan pembangunan infrastrukturnya secara berimbang guna menghasilkan sumber perekonomian terbaharukan…sustainable resource.
Sumber daya alam kita kuras cuma untuk dimakan saja, ngempanin wilayah padat penduduk yang problem politik dan sosialnya sangat kompleks dalam konteks demographic approach tadi. Ibaratkan punya ayam, telurnya terus diprocotin tapi pakan dan kandangnya tidak becus kita urus. Sehingga suatu saat ayamnya bisa mabur bergabung dengan NSAB atau Negara Serikat Antah Berantah….he he he…
Pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami pasang surut terutama saat Indonesia dilanda krisis ekonomi. Pembangunan infrastruktur mengalami hambatan pembiayaan karena sampai sejauh ini, titik berat pembangunan masih difokuskan pada investasi sektor-sektor yang dapat menghasilkan perputaran uang (cash money) yang tinggi dengan argumentasi bahwa hal itu diperlukan guna memulihkan perekonomian nasional.
Sedangkan pembangunan infrastruktur lebih difokuskan pada usaha perbaikan dan pemeliharaan saja. Dengan demikian dewasa ini, pembangunan infrastruktur kawasan timur Indonesia belum menjadi focus utama pembangunan.
Pada saat ini sudah hampir menjadi kesimpulan umum bahwa infrastruktur adalah fundamental perekonomian Indonesia. Bahwa daerah atau kawasan Indonesia Timur merupakan wilayah strategis guna membangkitkan potensi nasional. Oleh karena itu hari ini adalah saat yang tepat guna meletakkan kemauan bersama menyusun konsep pembangunan infrstruktur kawasan Timur Indonesia yang bersumber pada kesadaran penguasaan teknologi dan keunggulan sumberdaya daerah.
Pemetaan kebutuhan infrastruktur lima tahun ke depan berdasarkan jenis inftrastruktur seperti; jalan, listrik, gas, air bersih, pelabuhan, telekomunikasi, moda transportasi, dan lain-lain serta berdasarkan tipologi kewilayahan.
Perumusan pembiayaan infrastruktur dan sumber pembiayaannya.
Pengkajian kerangka regulasi yang ada dan merekomendasikan penyempurnaan kerangka tersebut guna mendukung prioritas pembangunan dan pembiayaan infrastruktur
Penyusunan strategi pembangunan dan pembiayaan infrastruktur ini diharapkan dapat menghasilkan peta pembangunan infrastruktur yang jelas di masa yang akan datang sehingga pemerintah mempunyai dokumen yang lengkap terhadap pembangunan infrastruktur.
Oleh karena itu, ruang lingkup dari penyusunan strategi ini mencakup seluruh aspek potensi ekonomi wilayah Indonesia Timur sebagai rumusan strategis pembangunan infrastruktur nasional, baik berdasarkan subsektor jenis infrastruktur dan maupun tipologi kewilayahan dengan basis pendekatan potensi.
Penyusunan strategi pembangunan dan pembiayaan infrastruktur kawasan timur Indonesia diharapkan dapat menghasilkan Master Plan di bidang infrastruktur yang akan mendukung skenario pembangunan era baru ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Master Plan ini diharapkan dapat memuat berbagai data dan informasi mengenai pembangunan dan pembiayaan infrastruktur berdasarkan skala prioritas pembangunan dan regulasi yang mendukung arah pembangunannya.
Cerminan pembangunan infrastruktur nasional adalah pembangunan infrastruktur di tiap wilayah atau propinsi di Indonesia. Perkembangan pembangunan infrastruktur di masing-masing pulau di Indonesia memperlihatkan perbedaan yang cukup berarti. Dominasi pembangunan infrastruktur sangat ditentukan oleh kondisi geograsfis dan demografis dari suatu wilayah.
Dominasi infrastruktur ini dapat mencerminkan pula tingkat aktivitas ekonomi dalam suatu wilayah. Perkembangan pembangunan infrastruktur untuk masing-masing pulau yang ada di Indonesia. Hal ini pula yang menjadi hambatan pembangunan infrastrukrur Kawasan Timur Indonesia.
Pada hal sejatinya jika Indonesia ingin percepatan mencapai kemajuan maka pendekatan potensi atau potential approach yaitu potensi yang mendorong tumbuhnya komoditas unggulan, hendaknya menjadi komintmen kuat terhadap pembangunan infrstruktur kawasan timur Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui bahwa daerah Kalimantan Selatan sebagaimana daerah Kalimantan umumnya yang merupakan salah satu pulau terbesar yang ada di wilayah negara kita. Tingkat kepadatan pendudukanya relative rendah sehingga tidak dimungkinkan untuk melakukan pendekatan demographic dalam perencanaan pembangunan infrastukturnya.
Dengan jumlah penduduk yang mendiami wilayah ini hanya sebesar 6% dari total penduduk Indonesia, maka akan berdampak pada aktivitas ekonomi yang ada di wilayah ini. Kondisi semacam ini merupakan kondisi tipikal wilayah Indonesia Timur. Karenanya diperlukan langkah potential approach atau pendekatan potensial untuk pembangunan infrastrukturnya
Komoditas yang menjadi unggulan untuk wilayah ini adalah sektor pertambangan dan galian, sub sector perkebunan dan subsektor kehutanan. Ketiga sektor ini memberikan sumbangan besar bagi pendapatan nasional.
Dengan demikian terdapat pandangan berbeda mengenai pola perencanaan bahwa berdasarkan jumlah penduduk atau pendekatan demografik, aktivitas ekonomi unggulan yang tidak memerlukan banyak infrastruktur, maka akibatnya adalah persentase pembangunan infrastruktur di pulau ini lebih rendah dibandingkan pulau Jawa dan Sumatera.
Dilihat dari infrastruktur transportasi, pelabuhan laut lebih mendominasi dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini sangat wajar dengan kondisi geografis dari Kalimantan yang lebih banyak rawa dibandingkan dengan daratannya yang memungkinkan sektor pelabuhan laut dan lalulitas angkutan sungai, danau, dan penyeberangan lebih berkembang dibandingkan dengan transportasi darat.
Pembangunan jalan di pulau ini masih relative rendah bila dibandingkan dengan luas wilayah pulau ini. Hal ini sangat signifikan sekali dengan jumlah kendaraan yang berada di wilayah ini hanya sebesar 5,8% dari jumlah kendaraan yang ada di Indonesia. Hal ini pula yang menyebabkan rendahnya tingkat mobilitas dan tingginya biaya transportasi sehingga wilayah ini kehilangan daya saingnya dalam menarik investasi.
Pandangan keliru juga terdapat pada subsektor pertanian tanaman pangan dan pengairan. Dapat kita temukan fakta bahwa irigasi tidak menjadi salah satu fokus pembangunan infrastruktur karena wilayah ini bukan sebagai lumbung padi tetapi lebih cenderung pada komoditas kehutanan dan perkebunan.
Pada pada sisi lain kitapun memehami betul bahwa kondisi wilayah ini sangat dimungkinkan membangun jaringan irigasi guna menjadikan Kalimantan sebagai lumbung padi. Kita dapat belajar dan membandingkan kondisi wilayah ini dengan kondisi Vietnam yang petaninya lebih unggul dari petani kita bahkan tanpa proteksionisme perdagangan.
Saat ini akses masyarakat Kalimantan terhadap air bersih, hanya sebesar 44% yang dapat menikmati air bersih sedangkan sisanya belum mendapatkan akses terhadap air bersih.
Ini merupakan salah satu permasalahan yang harus menjadi perhatian, karena bila kondisi tersebut dibiarkan maka akan berdampak pada tingkat kesehatan dari masyarakat di Kalimantan. Bagaimana kita bisa mengembangkan sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing secara global bila tingkat hiegenitas masih rendah. Oleh karena itu akses terhadap air bersih perlu langkah prioritas pembangunan infrastrukturnya.
Demikian pula dengan subsektor telematika dan ketenagalistrikan perlu berpacu dengan irama pertumbuhan yang berkembang dengan pesat. Hal ini sejalan dinamika dan aktivitas dari masyarakat di pulau Kalimantan.
Pembukan lahan menjadi lahan pertanian yang notabene terjadi perubahan fungsi seringkali memicu kotroversi yang kontraproduktif, hendaknya dipelajari kembali dengan seksasama agar tidak terdapat resistensi pembangunan hanya sekadar penolakan emosional, namun sebaliknya kehilangan informasi berharga tentang potensi ekonomi yang mempunyai keunggulan tertentu.
Akhirnya kita juga mengapeal akan pentingnya kesadaran tentang pembangunan infrastruktur berkaitan dengan upaya strategis percepatan pertumbuhan ekonomi, hendaknya secara nyata mengurangi hambatan birokratis di semua lini baik pada tingkat pemerintah pusat maupun pada tingkat pemerintah daerah dan pemerintah kabupaten.
Satu catatan lagi bahwa upaya untuk melakukan perubahan pola pembangunan yang berbasis linier jumlah penduduk mejadi pendekatan berbasis potensi akan mendapat tantangan kuat politisi wilayah padat penduduk yang sudah kemaruk kepenakan. Jangan lupa bahwa mereka adalah mayoritas yang menentukan arah kebijakan. Jadi kembali kita catatkan “ diharapkan dan semoga” gitu lho.
Thursday, July 12, 2007
Dialog Investasi Mr.Carter dengan Mr. Deng
Ada anekdot imajener yang konon merupakan adaptasi dialog antara Mr.Carter dengan Mr. Deng ketika Amerika menyatakan minat invetasinya di China. Deng menyambut baik keinginan investasi Amerika tersebut. Namun katanya, “ tidak ada yang bisa dibeli oleh rakyat kami dari anda sebab tidak ada yang bisa mereka jual ke Amerika kecuali ..maaf…tinja”. Jadi kalau anda ingin rakyat kami membeli Mc Donald, apakah anda bersedia membeli tinja mereka? Itulah canda diplomatic paling dramatis dalam sejarah dunia.
Selanjutnya Deng berbicara tentang produk China, item demi item disebutkan dan semuanya tidak ada yang mampu bersaing untuk bisa masuk ke pasar Amerika. Mana mungkin katanya, investasi di China akan menarik investor Amerika jika daya beli rakyat kami rendah. Investasi akan sangat menarik jika penduduk kami yang sangat besar ini dapat ditingkatkan daya belinya dan memungkinkan anda dapat bayaran dengan baik.
Selang berapa minggu kemudian mulailah pasar Amerika terbuka bagi garmen kualitas rendah dari China. Pedagang Amerika memang tidak mengimpor secara langsung melainkan mereka mengimpornya melalui Hongkong ketika masih koloni Inggeris. Kuota impor China ke pasar Amerika sangat besar dan tidak terpenuhi. Sehingga pengusaha Hongkong membeli garmen Bandung yang kemudian mengganti lebelnya dengan Made in PRC. Furniture rotan masuk pula ke pasar Amerika dan China membeli bahan bakunya dari warga kota Sampit - Kalimantan Tengah, mereka mengimpornya melalui Hongkong pula.
Singkat kata, pendapatan rakyat china meningkat dan investasi Amerika mulai masuk yang kemudian mempengaruhi kemampuan China mengembangkan teknologinya. Semengat détente dan kemauan politik Carter menegakan human right, mempunyai latar belakang pertimbangan realitas empiris bahwa terobosan militer China telah menguasai teknologi rudal dengan hulu ledak nuklir. Meskipun rakyatnya pada saat itu sangat miskin.
Daya binasa senjata nuklir yang extraordinary merupakan ancaman terbesar terhadap hak hidup semua makhluk dan Amerika Serikat adalah penguasa senjata nuklir terbesar hingga kini. Berarti ancaman terbesar terhadap kemanusian justeru adalah United Stated of America sendiri. Dan manakala rudal interbalistik China sudah mampu mencapai Alaska maka tidak ada pilihan lain bagi Amerika kecuali menjalankan politik détente dengan China.
Dari penggalan ceritera tadi dapat ditarik pemikiran bahwa kamampuan daya beli akan lebih baik bila produktifitas meningkat. Investor akan antre untuk masuk ke Indonesia manakala pasar kita dinamis. Mereka akan ikut aturan main yang bagaimanapun karena pasar kita menguntungkan. Sebaliknya mereka tidak akan tertarik untuk berdagang disini melalui invetasinya apabila kita miskin.
Jadi mulailah bekerja menciptakan produk kentang gunung Dieng dengan rasa yang paling enak didunia. Bikin konsumen dunia ketagihan untuk makan kentang Indonesia. Berhentilah main hujat hujatan, demo demoan, marah marahan. Mulailah bersaing dengan rakyat Vietnam dalam produksi beras. Kalau memang tidak mampu bersaing dengan komoditas beras tanamlah komoditi unggulan yang kita memang unggul dari bangsa lain didunia. Nggak usaha pakai proteksionisme.
Karena seperti larangan impor gula untuk melindungi petani tebu di Jawa tetapi menjadi beban bagi orang Dayak di Kalimantan atau saudara kita di Papua. Jadi nasionalisme macam mana pula itu mbak?
Sunday, June 17, 2007
BNP Paribas...Perkaranya Sampai Bulukan.
Nah itu dia keputusan pengadilan Guernsey, sudah bisa diduga sejak awal mengapa mereka mengundang pemerintah untuk ikut cawe cawe, agar uang yang menjadi pangkal sengketa tetap semedi di BNP Paribas, nah itu uang bisa kerja terus, bertelor, beranak pinak, sementara para pihak bersengketa, uang menjadi status quo tanpa bunga. Si bulee memang lebih pintar yaa.
Setelah ini masih banyak lagi yang ngantri untuk gugat itu uang, biar perkaranya sampai bulukan. Lu sebenarnya udah ngerti dan mengetahui banget kan. Tetapi lu mau jadi turis abidin...lu ngertikan apa itu abidin gak usah gw bilangin. yaa bawa berkas seadanya sekadar formalitas saja...eeh gw jadi gak enak ngomongnya. Abis lu sih kebangetan......
Begitulah kira kira dialog imajener, seputar kasus gugatan Tommy atas Bank Nationale de Paris Paribas. Dialog yang bisa dikembangkan dengan lateral thinking method. Sekadar mencoba membuka pikiran tentang kemungkinan bagaimana sesuatu bisa terjadi atas dasar motif dari subject untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
Ok singkat saja...jangan pernah berhenti berfikir karena rasa benci. Kasih sayang memberikan inspirasi bagi umat manusia untuk membentuk keindahan hidupnya.
Tuesday, June 12, 2007
UU Pers Bukan Milik Insan Pers Saja.
Wednesday, May 16, 2007
Hukhukbalakumang: Sang Raja Memotong Lidahnya Sendiri.
.....” saya tidak ingin lidah ini membuat pernyataan pengakuan bahwa saya telah menyalah gunakan harta negara untuk kepentingan pribadi. Sebab bila lidah saya membuat pengakuan maka rakyat akan mengenang saya sebagai raja yang paling jujur sepanjang sejarah negeri ini”
Hukhukbalakumbang.....adalah ceritera dari negeri antah berantah tetang sang raja yang terkenal jujur tegas lugas adil dan blak blakan. Begitulah dia dikenal rakyat sepanjang riwayat hidupnya. Raja yang sangat dipuji dan dicintai seluruh lapisan masyarakat karena kejujurannya tadi, ternyata berakhir tragis. Dia meningal dunia setelah sakit cukup lama, terinfeksi virus pada kelenjar liurnya yang disebabkan luka. Sang raja memotong lidahnya sendiri.
Peristiwa menyedihkan itu menjadi mistery. Tidak ada pernyataan apapun dari istana, resmi atau bisik bisik. Tidak terpahat dibatu tidak juga tergores di papyrus (*). Jangan harap pernyataan langsung lisan tentu saja, karena lidah sang raja sudah terpotong. Namun setelah di wafat dan seluruh prosesi selesai, Menteri Bendahara kerajaan menemukan fakta yaitu surat terakhir sang raja lengkap dengan tanda cap cicin kerajaan.
Surat tersebut adalah testimoni, pengakuan yang sekaligus mengungkapkan rahasianya, menjadi fakta yang memberikan jawaban atas apa yang selama ini menjadi mistery, mengapa sang raja memotong lidahnya sendiri.
Mengejutkan memang, dalam surat kepada bendahara kerajaan dia mengaku telah “khilaf” yaitu menyalakan lampu ketika sedang bercengkrama dengan isterinya. Padahal minyak untuk menghidupkan lampu itu dibeli dari uang negara....uang rakyat untuk keperluan negara bukan untuk kepentingan pribadinya. Nah sekarang anda boleh chorus, .........katakan maaasaaaa siiiih.
Tetapi bukan itu masalahnya yang menyebabkan mengapa sang raja sampai memotong lidahnya sendiri. Sang raja mengungkapkan.....”saya tidak ingin lidah ini membuat pernyataan pengakuan bahwa saya telah menyalah gunakan harta negara untuk kepentingan pribadi. Sebab bila lidah saya membuat pengakuan maka rakyat akan mengenang saya sebagai raja yang paling jujur sepanjang sejarah negeri ini” ***
(*) Ceriteranya hanya ada di web blog: Freedom Actually In Your Hearth.
Banyak lagi rahasia terungkap dari sang raja yang menjawab mistery tadi Misalnya; pengakuan hanya akan menjadi retorika politik bae....untuk menggaruk simpati rakyat. Silahkan anda jawab sendiri dan kirimkan kepada saya melalui komentar di blog ini. Ayo kita kemon.....
